Judul buku : Gus Mus; Satu Rumah Seribu Pintu
Penulis: Labibah Zain & Lathifatul Khuluq
Penerbit: LkiS, Yogyakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: xxiv + 290 Halaman
Peresensi: Fuad Hasan*)
Ibarat sebuah rumah, Gus Mus memiliki seribu pintu, setiap orang bisa masuk dan keluar darimana pun ia suka. (Hamdy Salad).
KH Mustofa Bisri (Gus Mus) ini, merupakan sosok seorang yang kompleks dalam berbagai bidang keilmuan. Selain kepak sayap kecerdasannya sebagai ulama penegak Syari’at Islam, Gus Mus juga seorang yang berkompeten dalam bidang intelektual, jurnalistik, kebudayaan, serta kesusastraan.
Judul Buku: Teologi Pembebasan
Penulis: Francis Wahono Nitiprawiro
Penerbit: LKiS, Yogyakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: lxxx + 228 halaman
Peresensi: Eko Sulistiyo *)
Teologi pembebasan merupakan bagian dari seruan agama untuk membela keadilan dan kesejahteraan umat manusia. Mulai sejak lahir, gerakan ini dirancang untuk mengkritisi model pembangunan yang dilakukan oleh negara dan dibentengi oleh institusi kuat, yakni militer dan agama, yang semata-mata untuk melegitimasi kepentingan negara. Dari sanalah gerakan ini bermula, yang bertujuan untuk meng-counter balik terhadap ideologi yang merusak tatanan kehidupam masyarakat.

Judul Buku: Tahlil dan Kenduri; Tradisi Santri dan Kyai
Penulis : H.M. Madchan Anies
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : 1, Februari 2009
Tebal : xii + 180 halaman
Peresensi: Umniyyah Lathifah*)
Tradisi tahlil sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat, khususnya bagi umat Islam warga Nahdliyyin. Biasanya, kegiatan tahlil ini dilaksanakan ketika ada acara kematian yang biasanya digelar pada hari ke-7, 40, 100, dan 1000 bahkan setiap tahun dari kematiaannya. Salah satu tujuan “tahlilan” adalah sebagai sarana untuk mengirimkan do’a kepada si mayat agar kelak mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Di Indonesia, tradisi tahlil berkembang cukup pesat dan semakin meluas. Tradisi tahlil, jarang (baca: sulit) dijumpai di negara lain. Mengapa demikian? Di antara yang menjadi faktor tradisi tahlil dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat Indonesia adalah disebabkan asal mula tahlil berangkat dari akulturasi ajaran Islam dengan budaya Jawa yang bernuansa Hindu-Budha. Hal ini dapat dimaklumi, karena salah satu dari metodologi yang ditempuh ulama’ wali sanga dalam menyampaikan dakwah islamiyah adalah dengan pendekatan akulturasi, di antaranya adalah yang dipraktikkan Sunan Kalijaga yang lebih dikenal sebagai budayawan.