Dialog Antar Pemuda Lintas Agama: Rasa kebangsaan makin mahal
Banjarmasin (Ansor Online): Nilai kebangsaan di kalangan pemuda dewasa ini terasa makin mahal karena lemahnya penumbuhan rasa solidaritas dan rendahnya kesempatan bertukar fikiran antarpemuda. Kegiatan dan kesempatan kepada pemuda dari berbagai agama di seluruh Indonesia untuk bertukar fikiran dan pengalaman secara bersama tergolong langka.
“Padahal untuk mengikat perasaan kebangsaan butuh pertemuan secara berkala dan berkesinambungan. Termasuk kegiatan mengunjungi rumah ibAdah dan berdialog dengan pemuka agama,” kata Prof Atho Mudzhar, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan (Kabalitbang) dan Diklat Depag.
Pernyataan tersebut ia kemukakan berkaitan dengan penyelenggaraan Dialog Antarpemuda lintas agama di Banjarmasin, 29 Juni-3 Juli 2009, yang diikuti wakil para pemuda berbagai etnis dan agama dari 33 propinsi di Indonesia. Kendati adanya dialog tersebut masih belum maksimal, kata Atho Mudzhar, melalui kegiatan dialog antarpemuda lintas agama di Banjarmasin ini, diharapkan akan tercipta rasa solidaritas dan jiwa kebangsaan. Sebelumnya para pemuda melakukan diskusi tentang wawasan kebangsaan.
“Diskusi itu merupakan pembekalan dan modal dalam menghadapi tantangan ke depan,” katanya.
Atho menambahkan, selama berada di Banjarmasin, para pemuda bertemu dengan para tokoh dan pemuka agama. Mereka juga mengunjungi rumah ibadah dan membangun jaringan kerja (network).
Dengan demikian, kata Atho, akan tumbuh perasaan kebangsaan. “Yang ini sekarang semakin mahal harganya. Tentu saja karena mereka pemuda pada gilirannya ini akan membangun networking guan menciptakan kerukunan umat beragama,” ucapnya.
Lebih jauh Atho mengatakan, hal ini bukan merupakan awal. Ini merupkan sebuah upaya panjang membangun kebersamaan masa depan bangsa. Setelah ini tentu ada tindak lanjut antara lain ada korespondensi dari jaringan yang ada. Pada waktunya nanti diharapkan para pemuda dan pemerintah membangun program menuju keutuhan bangsa dengan salah satu elemennya keanekaragaman tadi.
“Tapi setiap upaya seperti ini jangan dinilai hasilnya sekarang ini, itu harus jangka panjanjang dan berproses dan itu menjadi modal bagi mereka untuk proses selanjutnya,” katanya menjelaskan.
Seorang sarjana saja yang lulus hari itu, kata Atho Mudzhar, jangan dinilai ilmunya pada hari itu juga. Karena ilmu yang diperoleh itu harus diolah lagi untuk disesuaikan dengan perkembangan yang dihadapinya. (dtm)

