Jajak Pendapat

Menurut Anda, siapakah tokoh-tokoh berikut ini yang paling layak memimpin PBNU Periode 2010-2015?

View Results

Statistik

Golkar Banyak Faksi, Jalur Ormas Siap Menangkan JK-Win

Jumat, 3 Juli 2009 0:05

Jakarta (Ansor Online): Pemilihan Presiden 2009 boleh jadi merupakan pertaruhan reputasi warga NU dan Muhammadiyah, dua organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia. Dukungan mereka untuk calon presiden nomor urut 3 Muhammad Jusuf Kalla (JK) tampak benar- benar all out (habis-habisan) untuk bisa meraih hasil maksimal.

Secara institusional, NU dan Muhammadiyah secara tegas menyatakan diri netral. Namun, jika dilihat dari manuver sejumlah tokoh utama kedua organisasi itu, kesan berjuang habis-habisan tampak jelas.

Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, misalnya, rela tampil di televisi dalam iklan kampanye JK. Buya Syafii jauh-jauh hari menyatakan bahwa JK adalah real president.

Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsudin secara samar memperlihatkan sinyal ke JK. Dalam pertemuan dengan JK-Wiranto, di kantor PP Muhammadiyah, Mei lalu, ia berkata, “Saya sering katakan kami akan beri dukungan moril bagi anak bangsa supaya bangsa ini lebih ini lebih cepat lebih baik. Kami ucapkan selamat kepada Pak JK dan Pak Wiranto.”

Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Izzul Muslimin, mengatakan, Kamis (2/7/20098), persentase tokoh struktural dan kultural Muhammadiyah yang mendukung JK-Wiranto memang lebih banyak. Namun, ia tidak mau menyebut angka. “Kalau lihat orang per orang saya tangkap ada kecenderungan ke Pak Jusuf Kalla,” katanya.

Dari NU, dukungan untuk JK-Win sudah digalang Mei lalu. Sebanyak 20 kiai kultural NU menggelar bahtsul masail pengasuh pondok pesantren tentang kepemimpinan nasional di Surabaya, 22 Mei 2009, menghasilkan 6 poin penting. Salah satunya mendukung JK-Win.

Di antara kiai NU kultural yang mendukung duet JK-Wiranto adalah KH Abdullah Faqih, pimpinan Pondok Langitan Tuban. Ada pula KH Mutawakkil Alallah, Ketua PWNU Jatim; KH Chotib Umar, pimpinan Pondok Raudhlatul Ulum Jember; KH Muchit Muzadi, salah satu deklarator PKB dan kakak kandung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi; KH Sofyan Miftah dari Situbondo, KH Zainuddin Djazuli, pimpinan Pondok Ploso Kediri, dan banyak kiai lainnya.

Tanda dukungan paling baru adalah saat JK bertemu dengan para kiai di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Rabu (1/7/2009) malam untuk meletakkan batu pertama Rumah Islam Nusantara Hasyim Asyari. Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Pengurus Besar NU, KH Hasyim Muzadi membacakan teks amanat untuk JK jika terpilih menjadi presiden.

Tahun 1999, saat warga NU dan Muhammadiyah bersatu, KH Abdurrahman Wahid berhasil menjadi presiden pasca-reformasi. Tahun 2004, warga NU dan Muhammadiyah terpecah karena sejumlah tokohnya mencalonkan diri sebagai presiden. Tahun 2009, kini mereka dipersatukan oleh JK.

Apa pesona JK? Izzul Muslimin menunjuk latar belakang JK yang santri. “Ayahnya NU, ibunya Muhammadiyah. Dia sendiri aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Hubungannya dengan ormas-ormas Islam lain juga baik,” jelasnya.

Dari sisi karakter, Izzul menyebut JK lebih terbuka dan komunikatif. “Dia punya kemampuan berkomunikasi baik dengan banyak kalangan. Tidak membuat sekat komunikasi,” jelasnya.

KH Solahuddin Wahid, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, mengatakan, komunitas NU dan Muhammadiyah bersatu karena ada seorang pemimpin yang mau memedulikan mereka. “Pak Jusuf Kalla sering datang ke pesantren, banyak mengenal dan membantu kalangan NU. Saya pikir, Muhammadiyah juga merasa demikian,” katanya.

Secara substantif, NU dan Muhammadiyah bersatu mendukung JK karena melihat kemampuan sang capres nomor urut 3 itu. “Kalau Anda mengikuti debat capres putaran kedua, saya pikir bintangnya Pak Jusuf Kalla,” kata Gus Solah, mencontohkan salah satu media massa nasional yang dikenal mendukung SBY pun ikut memuji JK.

Sosok JK selain spontan, juga berani mengambil keputusan secara cepat dan transparan. Sosok pemimpin yang baik, menurut Gus Solah, bisa dilihat dari kecepatannya dalam memutuskan sesuatu, saat menghadapi masalah.

Akankah dukungan ini berdampak signifikan bagi JK? Gus Solah berharap dukungan para tokoh dan kiai untuk JK akan diikuti umat. “Gerakan sosialisasi ke masyarakat juga sudah dilakukan,” katanya.

Izzul Muslimin menegaskan, jejaring ormas Islam memiliki peran penting dalam pemenangan JK. “Kita lihat Golkar sebagai partai utama sangat liberal, sulit mengontrol proses politik. Banyaknya faksi di Golkar akan menyulitkan, sehingga Pak Jusuf Kalla memilih menggunakan jalur informal,” katanya.

Zannubah Arifah Chofsoh, putri KH Abdurrahmad Wahid sepakat, dukungan para ulama NU ke JK-Wiranto adalah sebuah pertaruhan terhadap reputasi kiai. Sejumlah pengamat politik pernah menyebutkan, saat ini kiai bukan satu-satunya referensi.

“Namun saya rasa ini eksperimen politik menarik, bahwa di sini kiai-kiai NU ngumpul jadi satu sekarang di belakang Pak Jusuf Kalla. Sangat menarik, karena ini kumpul bareng lagi. Saat konteks Pilgub Jatim, mereka terpecah,” kata Yeni Wahid, sapaan akrabnya.

“Para ulama, para guru, para sesepuh, saat ini kita tidak bisa berpangku tangan dengan alasan khittah. Bergeraklah! Saatnya kita membangkitkan kembali umat Muhammad SAW,” tegas Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi.

Kiai Hasyim meminta agar para tokoh dan ulama NU menjauhi kalkulasi politik berdasarkan keuntungan pribadi. “Hanya orang yang puasa di siang hari yang tidak kuat lalu mothel (membatalkan puasa). Khusus warga Nahdliyyin, bersatulah! Sudah lama kita bercerai-berai yang menyebabkan merosotnya harga diri dan martabat kita,” katanya.

Izzul Muslimin mengatakan, kemenangan pertarungan pilpres sedikit banyak akan ditentukan oleh kemampuan manajemen. “Pilpres sulit satu putaran, mungkin akan dua putaran,” tegas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini. [bj]

Berita Selengkapnya

  1. Tidak ada komentar.
  1. Tidak ada pelacakan.