Jajak Pendapat

Menurut Anda, siapakah tokoh-tokoh berikut ini yang paling layak memimpin PBNU Periode 2010-2015?

View Results

Statistik

IPNU : GUS DUR LAYAKNYA KI HAJAR DEWANTORO BAPAK PENDIDIKAN

Selasa, 9 Februari 2010 17:04

Jakarta,(Ansor Online)-Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ahmad Syauqi mengusulkan mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kepada Mendiknas menjadi Pahlawan Pendidikan, sejajar dengan Ki Hajar Dewantoro.
“Alasanya Gus Dur selama hidupnya banyak bergelut dan berjasa pada bidang pendidikan, termasuk saat menjabat presiden memberi perhatian besar pada nasib guru,” katanya disela-sela diskusi “Bedah Ujian Nasional” di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa 9 Februari 2010.

Hadir pula, Sekjen PBNU Dr Endang Turmudzi, Kepala Balitbang Kemendiknas, Prof Dr Mansyur Ramly, anggota DPR Komisi X Dedi Wahidi dan Theresia Pardede (F-PD).

Menurut Ahmad Syauqi, setelah Ki Hajar Dewantoro, Indonesia belum memiliki lagi bapak pendidikan. Karena itulah tak salah IPNU memberikan apresiasi kepada Alm Gus Dur sebagai bapak pendidikan. “Tak banyak pahlawan pahlawan pendidikan di Indonesia. Nah, Gus Dur juga layak mendapat gelar bapak pendidikan, seperti halnya Ki Hajar Dewantoro dalam mengembangkan Taman Siswa”tambahnya.

Lebih jauh kata putra mantan Ketua PWNU Jawa Timur-Prof Dr Ali Maschan Moesa ini, mengakui rencana audiensi dengan Menteri Pendidikan Nasional itu dengan agenda mengusulan penganugerahan Gus Dur sebagai Pahlawan Pendidikan. “Kita sudah mendapat jadwal agenda pertemuan dengan Mendiknas, paling lambat audiensi minggu ini. Kami akan meminta Menteri dan saya yakin Menteri akan setuju,” paparnya.

Yang jelas, lanjut Syaqi, usulan itu disampaikan IPNU kepada Kementerian Pendidikan Nasional semata-mata karena jasa Gus Dur terhadap dunia pendidikan, termasuk pengembangan pesantren. “Bahkan bukan itu saja, sejak beliau jadi Presiden itu banyak guru yang diangkat menjadi PNS. Kenaikan gaji guru juga dilakukan saat beliau jadi Presiden,” tambah Syauqi.

Syauqi menambahkan IPNU memberikan rekomendasi resmi kepada Kementerian Pendidikan Nasional terkait usulan Gus Dur Pahlawan Pendidikan. “Gus Dur dianggap layak mendapat gelar itu karena juga pengalaman pendidikannya yang tinggi. Beliau juga memiliki banyak pesantren, concern terhadap pendidikan, akademisi dan pernah menjadi guru,” tegas dia.

Sementara itu putri pertama Gus Dur yang hadir mewakili keluarga Alissa Qotrunnada Munawaroh menyambut baik pemberian gelar tersebut. “Buat kita semua gelar yang diberikan adalah sebuah penghormatan dan penghargaan terhadap peran Gus Dur,” kata Lisa.

Menurut Lisa, begitu dia disapa, selama hidupnya Gus Dur memang mengabdi pada dunia pendidikan sehingga cukup layak diberi gelar tokoh pendidikan. “Cita-cita beliau selalu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu kami sekeluarga sangat senang atas gelar ini,” tuturnya.

Dikatakan Lisa, bagi Gus Dur pendidikan adalah segalanya. Karena melalui pendidikan bisa bermanfaat bagi orang lain. “Pendidikan sangat penting bagi Gus Dur karena dalam keluarga selalu memberi pesan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain,”tambahnya.

Selainjutnya, putri sulung Gus Dur ini bercerita bagaimana Gus Dur memandang soal pendidikan. Saat kecil, dirinya bersama Yenny sedang jalan-jalan di Jakarta 1987. Ketika itu menemui anak-anak kecil yang membersihkan kaca mobil yang berhenti di lampu merah. Lalu, Yenny bertanya pada Gus Dur, kenapa anak kecil itu tidak sekolah dan justru mencari uang?

Lalu Gus Dur menjawab,”Kalau kamu protes dan ditulis Koran, itu pengaruhnya tidak besar. Jadi, yang penting kamu harus mencari ilmu setinggi-tingginya agar nanti bermanfaat bagi orang lain, termasuk membantu anak-anak yang terlantar di jalanan itu,”ungkap Lisa menirukan ayahnya.

Namun demikian lanjut Alissa, pendidikan bagi Gus Dur itu tidak cukup hanya dengan memiliki ijazah, melainkan harus pintar, berkarakter dan beretika. “Komitmen itu terus diperjuangkan oleh Gus Dur selama memimpin NU selama tiga periode sampai tahun 1999, sehingga banyak anak-anak muda NU yang kemudian melanjutkan ke berbagai pendidikan tinggi di dalam maupun luar negeri dan sudah banyak yang menjadi doktor,”pungkasnya.

Sedangka Sekjen PBNU, Dr Endang Turmudzi menjelaskan sejak NU berdiri sudah berkonsentrasi pada pendidikan pesantren dan madrsah, selain untuk berdakwah. Bahkan berkembang pendidikan madrasah lebih sistemik dan sekarang lebih modern dengan adanya pendidikan kejuruan di pesantren. “Ada MTs, MA, SMU, MK, Keperawatan, Teknik dll. Jadi, leboh professional. Kini terdapat 16.000 madrasah di lungkan NU dan terbesar di Jawa,”tandas Endang. [eko]

Berita Selengkapnya

  1. Tidak ada komentar.
  1. Tidak ada pelacakan.