NU: Jangan Gunakan Negara untuk Operasi Senyap
Jombang (Ansor Online): Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi mengingatkan, agar calon presiden tidak menggunakan kekuatan negara untuk kepentingan pribadi, termasuk operasi senyap.
Hal ini dikatakan Hasyim, di Pondok Pesantretn Tebuireng, Rabu (1/7/2009), menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan munculnya ‘operasi senyap’ dalam pemilihan presiden.
“NU kan rakyat biasa. Jadi tidak ada kekuatan untuk itu (untuk melawan operasi senyap). Kita hanya minta supaya capres manapun tidak menggunakan negara untuk kepentingan dirinya,” kata Hasyim.
Termasuk untuk operasi senyap? “Ya itu juga,” katanya.
Menurut Hasyim, dukungan warga NU terhadap capres Muhammad Jusuf Kalla cukup besar, walau tidak total. Ia menyadari, ada warga NU yang memilih mendukung Mega maupun SBY.
“Masalahnya bukan hanya masalah jumlah populasi. Tapi dukungan moral yang dianggap penting,” kata Hasyim.
sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Solahuddin Wahid meminta agar tak ada kecurangan dalam pilpres. “Kecurangan harus dilawan,” kata pria yang pernah menjadi calon wapres pada pemilu 2004 ini.
Menurut Gus Solah,tidak ada salahnya, warga NU mendukung secara resmi kadernya dalam kepemimpinan nasional.
“Menurut saya, kalau NU membantu tokohnya menjadi presiden, apa yang salah? Tidak ada yang salahkan, toh semua demi kemaslahatan bangsa dan negara,” katanya.
Memang, di antara 3 pasangan capres-cawapres, duet JK-Wiranto secara kultural, historis, dan psikologis paling dekat dengan NU dan Muhammadiyah. Ayah JK, Haji Kalla dikenal sebagai pendiri dan pimpinan NU di Sulawesi Selatan. JK juga lama aktif di NU Sulsel selain di Partai Golkar. Selain itu, ibundanya, Hajjah Athirah, lama aktif di Muhammadiyah Sulsel. Dengan demikian, di tubuh JK mengalir darah NU dan Muhammadiyah sekaligus.
JK juga dekat dengan kalangan NU. Sejak lama, baik ketika menjabat Menko Kesra, Wapres, dan Ketua Umum Partai Golkar, JK seringkali bersilaturrahmi dengan kalangan kiai dan ponpes di bawah pimpinan kiai NU. “Sejak menjabat wapres, Pak JK telah 3 kali berkunjung ke Pondok Tebuireng,” ungkap Gus Solah. [bj]

