Rayakan Ultah Ke-63, Hasyim Akui Langgar Tradisi NU?
Jakarta (GP-Ansor): Perayaan ulang tahun dalam tradisi NU untuk kiai yang telah meninggal atau “Haul”. Namun Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi tetap merayakan hari ulang tahunnya yang ke-63 di Jakarta.
Pemangku Pesantren Al-Hikam Malang yang lahir di Tuban, 8 Agustus 1944 itu, saat merayakan hari ulang tahun (ultah) ke-63 bahkan mendapatkan kado istimewa berupa dukungan untuk kembali menjadi Ketua Umum.
Dukungan tersebut dilontarkan Ketua PBNU KH Said Agil Siradj. â€ÂSaya cari-cari, saya bolak-balik AD/ART tidak ada yang menyatakan ketua umum maksimal menjabat dua kali. Itu cuma isu. Saya mendukung kalau Pak Hasyim terpilih lagi,†tegas Said saat menghadiri perayaan ultah ke-63 KH Hasyim Muzadi di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (8/8) kemarin.
Dalam acara yang berlangsung sederhana itu, hadir beberapa pengurus PBNU, para kiai, serta para tokoh masyarakat dan lintas parpol, seperti Cecep Syarifuddin (anggota Dewan Syuro PKB), FuadBawazier (KetuaDPP Partai Hanura), Umar Hadi (Direktur Dipolomasi Publik Deplu), dan lain-lain.
Meski demikian, hidangan beragam menu nampak tertata rapi di atas karpet aula yang berada di lantai 8 Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya. Mulai nasi kebuli, sop buntut, sate kambing, ayam goreng, beragam kue, hingga buah-buahan siap disantap. Di meja kecil tampak kue tar komplet dengan tulisan putih Selamat Ulang Tahun Ke-63 KH Hasyim Muzadi.
Makanan dan kue ulang tahun itu bukan secara khusus disiapkan Hasyim. Konon tamu-tamu yang datang ke PBNU lah yang membawa makanan-makanan tersebut untuk meramaikan ulang tahun mantan cawapres itu.
Sambil duduk lesehan, para tokoh tersebut bergantian memberikan testimoni singkat berupa kesan dan pesan pada KH Hasyim Muzadi. Tak jarang, testimoni itu disampaikan dengan nada humor yang sedikit menyindir sinis. Said juga menyatakan bahwa KH Hasyim adalah orang yang memiliki rasa humor yang cukup tinggi. Bahkan, kata dia, beberapa humor KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berasal dari Hasyim Muzadi. â€ÂPantesan, dulu kalau Gus Dur pulang dari Jawa Timur selalu punya humor baru, ternyata kulak (mengambil) dari Pak Hasyim.
Orang yang jago humor itu menunjukkan bahwa dia cerdas karena hanya orang cerdas yang mempunyai selera humor tinggi, â€Âungkapnya disambut tawa para tokoh yang hadir. Dukungan juga datang dari Fuad Bawazier. Dia berharap KH Hasyim Muzadi bisa terus memimpin NU.†Pak Hasyim ini orangnya santai tapi serius, seriusnya kelihatan santai. Semoga beliau bisa terus berkiprah untuk NU,†tandasnya.
Acara ulang tahun Hasyim itu sempat disindir Ketua PBNU Ahmad Bagja. Menurut Ahmad, selama puluhan tahun di NU baru kali ini ulang tahun ketua umum dirayakan. “Biasanya tidak ada, paling-paling puasa,” kata Ahmad Bagja, disambut tawa puluhan hadirin yang duduk lesehan di Aula PBNU.
Menanggapi testimoni para sahabatnya itu, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi membalasnya dengan humor. Hasyim menyatakan sedikit malu saat harus merayakan ulang tahun. Biasanya dia memperingati hari lahir dengan berpuasa. Tapi, karena teman-temannya ingin merayakan ulang tahun Hasyim, dia kemarin tidak berpuasa. “Tapi, keluarga saya di rumah puasa semua,” katanya.
Menurut dia, merayakan ulang tahun bagi orang yang masih hidup bagi tokoh NU adalah hal yang tidak lazim. Sebab, tradisi perayaan ulang tahun biasanya hanya untuk kiai yang sudah meninggal atau disebut haul. â€ÂYa, semoga teman-teman tidak mendoakan saya cepat mati,†candanya.
Selain soal ulang tahun, kata Hasyim, tidak lazim orang yang masih hidup menulis biografi tentang diri sendiri. “Biasanya riwayat hidup seseorang ditulis setelah orang tersebut meninggal. Yang menulis orang lain. Sekarang kan banyak orang menulis riwayat hidup sendiri. Ya, pasti bagus-bagus isinya,” ujarnya.
Hasyim sempat mengeluarkan humor-humor khas NU yang menambah hangat suasana. Saat melihat udang goreng tepung yang tersaji, dia mengaku teringat saat berkunjung ke Bangkalan, Madura. Di sana Hasyim disuguhi lobster. “Saya bilang tidak makan udang karena takut kolesterol. Ada yang nyeletuk, Pak Kiai, kalau begitu, yang dimakan udangnya saja, kolesterolnya jangan ikut dimakan,” kata Hasyim disambut tawa para tamu.
Dia juga sempat melontarkan tebakan. “Apa beda NU dengan partai?” tanya Hasyim. “Kalau NU, orang lain jadi saudara. Kalau partai, saudara jadi orang lain,” kata suami Mutammimah itu.
Suasana ulang tahun Hasyim menjadi gayeng karena yang menjadi pembawa acara adalah Sastro Al-Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur. Menurut Sastro, acara ulang tahun Hasyim sebaiknya dilaksanakan setahun tiga kali. “Kalau acara seperti ini, kan semua berkumpul dan akur. Yang berantem di luar, di sini bisa duduk berdampingan,” kata Sastro. (sindo/jp/wg)

