Abdullah Azwar Anas, S.Pd., SS., M.Si - Caleg DPR-RI dari PKB
Tempat/tgl. lahir: Banyuwangi, 6 Agustus 1973
Agama: Islam
Status: Menikah
Istri: Ipuk Fiestiandani
Alamat: Jl. Wahid Hasyim Desa Karang Doro, Kecamatan
Tegalsari, Banyuwangi 68485
Komplek DPR-RI Blok A-7 No. 101, Kalibata, Jakarta Selatan
Kantor: Gedung Nusantara I, Lantai XVIII Ruang 1813,
Jl. Jenderal Gatot Subroto Jakarta 10270
Phone: +62215755691
Fax: +62215755692
Homepage: http://www.Abdullahazwaranas.com
E-mail: info@abdullahazwaranas.com
Caleg DPR-RI Partai Kebangkitan Bangsa, Dapil 7
Nomor Urut : 4
CITRA PARTAI POLITIK TERGANTUNG ANGGOTA LEGISLATIFNYA
Lelaki kelahiran Karang Doro, Jajak, Banyuwangi, 6 Agustus 1973 ini putra pasangan Muhammad Musayyidi dan Siti Aisyah sarat dengan pengalaman organisasi. Sejak duduk di bangku SMA Negeri I Jember, Anas—begitu ia akrab disapa, sudah menjadi Ketua IPNU Komisariat Besar Kotatif Jember. Kiprahnya di badan otonom NU yang mengambil bidang garap kalangan pelajar itu kian meroket ketika menjadi Wakil Sekjen PP IPNU (1993-1996).
Pada periode 1996-2000, Anas dipercaya menjadi Sekjen PP IPNU. Karir alumni Fakultas Teknologi Pendidikan IKIP Jakarta dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini mencapai puncak ketika Kongres Makassar tahun 2000 mendaulatnya sebagai Ketua Umum PP IPNU.
Prestasi Anas di bidang pendidikan juga cukup gemilang. Pada tahun 1995, dia mendapat penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi UI. Anas baru saja menyelesaikan tesis S-2 pada Program Pascasarjana Program Studi Komunikasi UI Jakarta. Anas juga tak asing bagi kalangan pesantren. Sejak duduk di bangku MI (SD), Anas sudah mondok di PP An-Nuqoyyah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Anas pindah mondok ke PP Bustanul Makmur, Genteng, Banyuwangi, ketika menyelesaikan SMP Negeri I Banyuwangi. Sembari menyelesaikan SMA, Anas juga mondok di PP Ash-Shiddiqiyyah Putra (Ashtra), Jember.
Pada Pemilu 2004, Anas tercatat sebagai calon anggota DPR-RI nomor urut 4 dari daerah pemilihan Jatim III yang meliputi Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Anas diusulkan oleh DPC PKB Banyuwangi melalui Rakercabsus. Sebenarnya, ia diharapkan dapat berada di nomor urut dua atau tiga. Namun akhirnya Mantap DPP PKB menempatkan anak muda potensial ini di nomor urut empat.
Secara pribadi, Anas merasa usulan DPC PKB Banyuwangi agar dirinya mewakili kabupaten di ujung timur selatan pulau Jawa itu merupakan amanat. Karena itu, dia sejak lama sudah melakukan konsolidasi terus-menerus di Banyuwangi. “Apalagi Banyuwangi kan daerah kelahiran saya. Setiap kali saya pulang ke Banyuwangi saya sempatkan komunikasi dengan konstituen, dengan DPC, dan teman-teman kader lainnya. Semampu saya, karena kita belum mampu memberikan apa-apa, ya setidaknya kita memberikan informasi-informasi tentang PKB dan lain sebagainya,” kata Anas. Kerja keras Anas tidak sia-sia, terbukti, sekalipun menduduki nomor urut 4 dalam Pemilu 2004, suara Anas mampu melampaui para caleg dengan nomor urut di atasnya, dengan memperoleh dukungan 135.337 suara.
Bagi Anas, motivasinya menjadi calon anggota legislatif (caleg) adalah dapat memperjuangkan hak-hak masyarakat yang selama ini belum mampu disuarakan dengan baik. Dengan masuk dalam dunia legislatif diharapkan dapat memperjuangkan banyak hal.
“Apalagi hari ini, negara kita masih terkait dengan persoalan-persoalan struktural. Sehingga banyak hal yang perlu dipecahkan secara struktural. Termasuk persoalan kemiskinan. Saya kira soal kemiskinan bukan karena masyarakat tidak mampu. Tetapi karena ada persoalan struktural yang belum dipecahkan. Dari sini saya kira memang political will itu masih sangat menentukan. Karena itu kebijakan-kebijakan politik menjadi penting dalam upaya untuk mensejahterakan masyarakat,” urainya.
Pada Pemilu 1999 yang lalu, Anas sesungguhnya sudah menjadi caleg. Ia berada di nomor urut dua setelah Dra Hj Umroh Tholhah Manshur. Namun, Anas tidak terpilih karena PKB di Banyuwangi hanya meraih satu kursi di DPR-RI. Dengan demikian, pencalonan Anas saat ini sebagai anggota legislatif merupakan kelanjutan dari pengalaman politiknya.
Apalagi, jauh sebelum itu, Anas pernah duduk sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR-RI) Utusan Golongan mewakili kalangan mahasiswa periode 1997-1999. Anas dipilih sebagai anggota MPR sebagai representasi dari Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (IPNU)—sekarang berubah menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).
Pasca reformasi, Anas menyadari, kiprah anggota legislatif memang belum maksimal. Bahkan boleh dibilang mengecewakan rakyat. Namun, Anas yakin hal itu tidak akan mempengaruhi perolehan suara PKB. “Saya kira ini menjadi kenyataan umum hari ini. Bahwa penampilan wakil-wakil rakyat memicu kritik yang cukup banyak dari masyarakat. Saya kira hampir seluruh partai menuai kritik dari masyarakat. Bukan hanya PKB, tetapi juga PDIP, Golkar, PPP, dan partai yang lain. Ini saya kira perlu menjadi catatan penting bagi PKB di masa mendatang. Karena wakil rakyat bagi PKB itu adalah PR (Public Relations),” ujar pria kalem namun lincah ini.
Menurut Anas, “pekerjaan” partai politik sesungguhnya sebelum pemilu sampai setelah pemilu. Selanjutnya, setelah legislatif dilantik, citra partai itu banyak digantungkan kepada perilaku anggota legislatif. Ketika perilaku anggota legislatif tidak mampu menampilkan wujud kesejatian dirinya sebagai wakil rakyat, maka di situ akan menuai kritik.
“Jadi mata dan telinga partai setelah pemilu adalah wakil rakyat. Ketika PKB mampu memilih wakil rakyat yang amanah dan bisa mencerminkan dirinya sebagai wakil dari rakyat dan wakil dari partai yang berbasiskan ulama, saya kira PKB bisa memperoleh citra yang bagus,” tandas pria yang pernah dinobatkan sebagai 61 Tokoh Pilihan versi Majalah Men’s Obsession, sebuah majalah bergengsi di Ibu Kota. (www. dpp-pkb.org/AM. Mubarok)
KIPRAH ANAK PESANTREN DI SENAYAN
MESKI Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sering diidentikkan dengan partainya para ulama Nahdlatul Ulama (NU), namun sosok Abdullah Azwar Anas tampak jauh dari kesan politisasi dari partai yang anggotanya umumnya berusia tua. Sebaliknya, ia menampilkan figur seorang politisi muda penuh semangat dan getol berteriak lantang di Senayan.
Anas, panggilan akrabnya, tergolong rajin ngantor di DPR. Dia duduk di Komisi V, yang membidangi perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Tak salah jika ia banyak menyoroti persoalan perumahan nasional, infrastruktur transportasi publik, jalan dan jembatan di tanah air yang kondisinya dinilai memprihatinkan.
Menurut Anas, rusaknya infrastruktur transportasi nasional kita bukan semata-mata karena kurangnya anggaran, tetapi lebih pada mental dan sikap kita dalam membangun. Banyak jembatan dan jalan yang dibangun para kontraktor kita rusak berat, sementara yang dibangun Belanda masih segar bugar.
Perlu melakukan terobosan agar transportasi nasional kita menjadi efisien, nyaman dan aman, yaitu dengan mengintegrasikan berbagai moda transportasi dalam sistem transportasi nasional. Karena itu, mantan Wakil Sekjen DPP PKB ini, sangat serius dalam pembahasan Pansus 4 RUU Transportasi yang sedang berjalan (RUU Kereta Api, RUU Penerbangan, RUU LLAJ dan RUU Pelayaran).
Anas juga mengingatkan agar pergerakan orang dan barang dalam transportasi nasional kita harus diukur dengan accessibility (sejauh mana publik bisa mengakses seperti kereta api, monoreil dll) bukan car mobility (pergerakan mobil)
Karena masih memiliki vitalitas tinggi, pria muda kelahiran Banyuwangi ini, lebih sering terjun langsung meninjau kondisi infrastruktur jalan dan jembatan di pelasok daerah, terutama di daerah pemilihannya, Jawa Timur III, yang meliputi Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Dalam kunjungan ke daerah, Anas lebih senang menyetir sendiri kendaraan jip pribadinya, Mobil 4X4 berwarna hitam itu memang andal digunakan di jalan-jalan rusak. â€Apalagi, saya memang tidak mau kelihatan formal. Saya ingin berpenampilan santai. Dan mobil saya cocok untuk orang yang berpenampilan tak formal seperti saya,†tutur pemakai kemeja Byford, dasi Wood, dan sepatu Mont blanc ini.
Namun ada hal yang menarik pada nopol kendaraannya, B 1926 NU. Nopol itu punya makna sendiri, yaitu Anas adalah kader Nahdlatul Ulama, dan 1926 merupakan tahun kelahiran ormas Islam terbesar di Indonesia itu. â€Saya perlu kerja keras untuk memperoleh nopol itu, angka ini menjadi spirit bagi saya†ungkapnya lagi.
Lelaki ramah ini memang berasal dari keluarga santri, dan pernah mengenyam pendidikan di beberapa pesantren di Jawa Timur. Sang ayah, KH. Muhammad Musayyidi, dan ibunya Siti Aisyah, selalu mendorongnya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Mereka juga memotivasi Anas untuk berorganisasi. Anas pun aktif di Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (IPNU), dan berhasil menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU periode 2000-2003, setelah menjadi Sekjen pada organisasi yang sama pada periode sebelumnya.
Anak kedua dari sebelas bersaudara ini tergolong berotak encer. Ia sukses menggondol Master di Pasca Sarjana FISIP UI . S-I kuliah di Fakultas Sastra UI dan Fakultas Teknologi Pendidikan IKIP Jakarta. Ketika kuliah di UI ia pernah mendapat penghargaan sebagai mahasiswa UI berprestasi pada tahun 1995.
Untuk menjaga kebugaran tubuhnya, Wakil Ketua Pansus RUU Tata Ruang DPR-RI ini rajin fitnes di Life Spa Hotel Hilton Jakarta. (Men’sObseSsion/Edisi Khusus HUT RI Ke-61/Arif Rahman Hakim)
SANTRI, POLITIK DAN KERETA
KETIKA masih jadi mahasiswa, tak pernah terlintas dalam benak Abdullah Azwar Anas untuk memikirkan masalah politik. “Ketika itu saya justru ingin menjadi guru agama saja,†kenang Anas.
Perjalanan karier pria Jawa Timu melewati banyak tikungan. Tumbuh dari keluarga santri, Anas sempat mengenyam pendidikan pesantren di Madura.
Suasana yang kental religius terus menyemangatinya, sampai ia berhasil meraih dua titel S-1: dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI), dan Fakultas Teknologi Pendidikan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta. Predikat mahasiswa UI berprestasi juga disandangnya pada 1995.
Katakunan orang tuanya, KH. Muhammad Musayyidi dan Siti Aisyah, menekuni pendidikan agama, mengilhami cita-cita tersebut. â€Dengan menjadi ilmuwan, saya yakin bisa melakukan pencerahan di masyarakat,†begitu tekad mantan Ketua Umum Ikatan Putra Nahdlatul Ulama 2000 – 2003 ini.
Namun, cita-cita tinggal cita-cita. Saat terpilih menjadi anggota MPR dari utusan Golongan pada 1997, suami Ipuk Fiestiandani ini justru mulai tertarik dunia politik. “saya berobsesi menjadi politikus yang hebat, tokoh nasional,†tutur pemilik Nissan X-Trail B 1926 NU keluaran 2004 ini.
Untuk sementara, fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa ini, tak mau bermuluk-muluk dalam berpolitik. â€Yang penting bekerja serius, dan selebihnya orang lain yang menilai,†tukas pengagum Buya Hamka, KH Abdurrahman Wahid, dan KH Mustofa Bisri ini.
Anak kedua dari 11 bersaudara ini mulai mantap menetapkan karier politiknya ketika mendulang suara cukup besar dalam Pemilu 2004 dan berhak menjadi anggota DPR. Sebelumnya, pada Pemilu 1999, pelahap sate kambing ini gagal ke Senayan.
Duduk di Komisi V, pria yang senang memadukan kemeja Byford dengan dasi Wood ini sudah menyiapkan konsep penataan transportasi sejak awal. Seringnya kecelakaan yang menelan banyak korban, menurut Anas, lantaran sistem transportasi kacau balau.
Di sis lain, ia mencoba berjuang mempelopori amandemen terhadap Undang-Undang No. 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian. Revisi terhadap UU itu penting, agar konsumen mendapat pelayanan dan keamanan yang lebih baik. â€Kereta api harus dioptimalkan fungsinya mengangkut barang, selain orang,†ia menambahkan. Dengan demikian, Anas Yakin kerusakan jalan bisa diminimalisir. Roda ekonomi pun kian lancar. (Men’sObseSsion/Edisi 14/Februari 2005/Arif Rahman Hakim)
OGAH LOYO
SEMPITNYA waktu, tak Berarti Membuat pemakai sepatu Merek Mont Blanc ini lupa menjaga diri. Fitness di Park Land Hotel, Kuningan, atau terapi pijat refleksi di Auto Mall, kerap disambangi pria yang suka main bulu tangkis dengan kaaribnya, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Syaifullah Yusuf. â€Olah Raga sudah menjadi kebutuhan bagi saya. Kalau nggak Olah raga, Badan jadi loyo,†katanya.
Ya, Anas memang tak mau loyo. Masih ada seabreg obsesi lain yang harus ia wujudkan. Antara lain, mengambil gelar Doctor untuk bidang Komunikasi di UI. â€Saya juga mau jadi konglomerat,†tukas komisaris PT Utan Kayu, yang bergerak di bisnis onderdil mobil ini. (Men’sObseSsion/Edisi 14/Februari 2005/Arif Rahman Hakim)

Umur saya 62 tahun,asal Banyuwangi, pensiunan General manager P.T Krakatau Steel, jadi saya panggil adik saja ya.
Dik Anas demi Allah sejak mengenal kiprah jenengan di Komisi 5, saya mengira jenengan putranya P.Azwar Annas , mantan Menteri Perhubungan. Mungkin banyak orang seperti saya,padahal keinginan besar orang Banyuwangi, untuk memilih wakilnya dari Banyuwangi cukup besar, padahal spanduk jenengan yg terpasang di Bwi,waktu lebaran tidak mencantumkan lahir di Banyuwangi.Saran agar putra Banyuwangi dpt dicantumkan.Selamat berjuang, semoga berhasil
Selamat berjuang mas anas…untuk kesejahteraan rakyat
maju terus…
Selamat berjuang rekan. Jangan coreng almamater IPNU, saya yakin kamu bisa. Karena kita pernah sama-sama berjuang disana. Jangan kecewakan kami (rekan dan rekanita)
mas annas.. ada ruang yang sebenernya menjadi tanggung jawab sampeyan. dan itu bukan jakarta
Ass. Wr wb,
Semoga dapat mejadi kepanjangan tangan masyarakat yg sesungguhnya serta manfa’at N tidak sekedar slogan lebih2 lip service only. Kalau kundur B’wangi dan ada waktu luang mudah2an bisa napak tilas ke Mbah Atif lautan R’jampi.
Wassalam