Mahfud MD dan Masa Depan Indonesia
M Bambang Pranowo, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Harian Seputar Indonesia, Jumat (29/1/2010) di Jakarta, menobatkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Dr Mahfud MD sebagai People of The Year (POTY) 2009.
Ketua Dewan Juri Dr Ing Gunadi Sindhuwinata mengatakan, guru besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini dinilai telah memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif kepada Indonesia. Mahfud juga dinilai telah melakukan terobosan dan inisiatif dalam menciptakan perubahan di Indonesia.
Penghargaan sebagai POTY 2009 oleh harian berpengaruh Seputar Indonesia ini merupakan penghargaan yang kesekian kali diterima Mahfud. Sebelumnya, Mahfud mendapat penghargaan Charta Politika Award 2009 untuk kategori pemimpin lembaga negara paling berpengaruh,kemudian UII Award karena jasa-jasanya dalam bidang akademis, politik, pemerintahan, penegakan hukum,serta kehidupan sosial.
Majalah Globe Asia juga memberikan penghargaan kepada Mahfud sebagai Agent of Change dan LSM Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) memberikan gelar People of The Year karena terobosannya dalam penegakan hukum dan keberaniannya membuka rekaman pembicaraan Anggodo Widjaja dengan para penegak hukum di MK dan disiarkan langsung kepada publik.
Ketika menerima penghargaan tersebut,Mahfud mengatakan,apa yang dilakukannya sebagai Ketua MK sebenarnya hal biasa.Hal biasa yang dimaksud Mahfud adalah berlaku lurus, profesional, berani, dan berintegritas. ”Tetapi, tampaknya keadaan jagat raya penegakan hukum di Indonesia saat ini lebih banyak diwarnai oleh mafia hukum yang melibatkan pejabat dan penegak hukum sehingga hal yang biasa menjadi luar biasa,” ujarnya.
Penggalan pernyataan Mahfud di atas, meski singkat, mempunyai perspektif yang amat luas dan dalam bagi bangsa Indonesia yang rindu keadilan hukum. Kita tahu, sebuah negara yang mengabaikan keadilan niscaya sulit mencapai ketenteraman dan kesejahteraan. Karena itu, keadilan harus diletakkan di atas segalagalanya. Fiat justitia ruat caeloem (biarpun langit runtuh, hukum harus ditegakkan), itulah moto penegak hukum yang harus diperjuangkan dalam kondisi apa pun.
Three in One
Prof Dr Ikrar Nusa Bhakti pernah menyatakan, tak banyak orang yang bernasib mujur dan selalu berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat seperti Mahfud (Seputar Indonesia, 8/12/2009).Dalam istilah Dr Mustoha Iskandar, The Best CEO 2009, Mahfud adalah manusia yang “sempurna” dalam meniti karier di Indonesia.Dia pernah menjadi pejabat negara dalam lingkungan legislatif (anggota DPR), lingkungan eksekutif (Menteri Pertahanan/Menhan),dan lingkungan yudikatif (Ketua MK).
Ketiganya dijalankan Mahfud dengan cara yang khas––merakyat, kreatif, dan inovatif––sehingga mencapai keberhasilan yang mengesankan. Mahfud adalah orang sipil kedua–– sesudah Prof Juwono Sudarsono–– yang menduduki posisi menhan di era Reformasi. Di masa Mahfud inilah dimasukkan beberapa pejabat sipil untuk menduduki jabatan eselon satu, yakni sebagai Dirjen Rencana Pertahanan, Kepala Badan Litbang dan Staf Ahli Bidang Sosial Budaya.
Dengan begitu,secara psikologis ada nuansa yang berbeda di departemen yang semula pejabat eselon satunya semua dari kalangan militer tersebut. Sewaktu menjabat sebagai menhan, karya monumental Mahfud adalah disusunnya Rencana Undang-Undang (RUU) tentang Pertahanan Negara. Masa itu, tulis Ikrar Nusa Bhakti, merupakan zaman keemasan kerja sama antara pemerintah, para akademisi, dan aktivis LSM untuk menyelesaikan UU Pertahanan Negara yang kemudian disahkan sebagai undang-undang sewaktu menhan dijabat oleh Mathori Abdul Jalil.
Mahfud, yang tidak memiliki latar belakang di bidang pertahanan dan militer, tidak segan-segan atau malu-malu untuk bertanya kepada orang yang memahami soal itu.Namun,keberhasilan Mahfud yang paling “menggegerkan”jagat republik adalah ketika MK yang dipimpinnya memutar rekaman pembicaraan Anggodo Widjaja–– adik Anggoro Widjaja, terdakwa kasus korupsi pengadaan sistem komunikasi radio terpadu Dephut–– dengan sejumlah pejabat penegak hukum, 3 November 2009 lalu.
Dari rekaman itulah masyarakat terhenyak,betapa bobroknya kelakuan aparat hukum.Jika orang setingkat Anggoro saja bisa mengatur dan merekayasa hukum,bagaimana dengan “tingkah laku” para konglomerat hitam yang telah menilap uang BLBI yang jumlahnya Rp600 triliun rupiah itu? Makelar kasus yang selama ini hanya menjadi rumor di masyarakat tapi tak pernah bisa dibuktikan di pengadilan, setelah dibukanya rekaman pembicaraan Anggodo tersebut, mulai terlihat sosoknya.
Dari suara rekaman itu,masyarakat akhirnya mengetahui betapa buruknya penegakan hukum di Indonesia. Dalam konteks itulah Mahfudmenyatakan,bilapara penegak hukum mau diperlakukan para makelar kasus seperti itu, mereka sama saja dengan binatang. Pernyataan Mahfud tersebut menjadi pembicaraan masyarakat, khususnya para penegak hukum yang merasa tersengat.
Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam rapat dengan DPR membicarakan kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah sempat menyinggung pernyataan Mahfud tersebut. Mendengar pernyataannya yang disalahtafsirkan banyak pihak, termasuk Kapolri, Mahfud pun mengklarifikasinya di acara Kick Anda bahwa yang dimaksud aparat hukum seperti binatang apabila mereka mempermainkan hukum dan bekerja sama dengan makelar kasus untuk mengacaukan keadilan.
Tak hanya itu, Mahfud pun memberikan sejumlah nama makelar kasus kepada KPK untuk ditelitinya. Entah benar atau tidak,menurut berita yang beredar, sejak saat itu, Mahfud sering mendapat ancaman. Namun ancaman itu dianggap angina lalu oleh putraMadura ini. Bagi Mahfud, segala macam ancaman itu tidak artinya selagi Allah tetap melindunginya.
Mahfud, yang sejak kecil di Madura hingga masa pendidikan menengah dan tinggi di Yogyakarta, digembleng dalam lembaga pendidikan bernuansa agama.Tamatan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) dan Fakultas Hukum UII ini menyatakan bahwa sandaran dalam menjalankan tugasnya adalah Allah semata. Karenanya, ancamanatautekananapapun tak akan memengaruhinya.
Mahfud tetap berjalan lurus, membenarkan apa yang diyakininya benar dan menyalahkan apa yang diyakininya salah. Jabatan adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan baik agar dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, bukan manusia. Dari sanalah kita melihat Mahfud: sosok yang tidak gentar terhadap ancaman dan hardikan siapa pun demi menegakkan keadilan. Dalam konteks ”kekuatan Tauhid”inilah seharusnya kita melihat sosok Mahfud.
Selebihnya,kecerdasan dan keberaniannya adalah instrumen Mahfud untuk membela kebenaran dan keadilan yang diyakininya. Kita berharap, di negeri ini akan muncul ”Mahfud-Mahfud” yang lain.Kita pun percaya,masih banyak penegak hukum yang jujur dan ingin menegakkan keadilan di Indonesia.
Kinerja Mahfud dengan sejumlah apresiasi masyarakat melalui deretan penghargaan tersebut mudah-mudahan dapat memberikan inspirasi kepada kita semua untuk selalu menjadi pribadi yang bersikap adil dan membela tegaknya keadilan.Jika itu terjadi, niscaya masa depan Indonesia akan mencorong. (Telah dipublikasi di Sindo, 03/01/10)


Belia adalah salah seorang kader terbaik dari NU yg Pernah berkata bahwa MK adalah habitatnya bukan di politik praktis. terbukti dg izin Alloh beliau bisa maksimal di MK. buat kader2 NU mari contoh beliau, berkarya dg ikhlas dan profesional dlm bidangnya masing2.