Jajak Pendapat

Menurut Anda, siapakah tokoh-tokoh berikut ini yang paling layak memimpin PBNU Periode 2010-2015?

View Results

Statistik

Gerakan Agama dalam Pembebasan

Jumat, 19 Juni 2009 16:49

teologi-pembebasanJudul Buku: Teologi Pembebasan
Penulis: Francis Wahono Nitiprawiro
Penerbit: LKiS, Yogyakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: lxxx + 228 halaman
Peresensi: Eko Sulistiyo *)

Teologi pembebasan merupakan bagian dari seruan agama untuk membela keadilan dan kesejahteraan umat manusia. Mulai sejak lahir, gerakan ini dirancang untuk mengkritisi model pembangunan yang dilakukan oleh negara dan dibentengi oleh institusi kuat, yakni militer dan agama, yang semata-mata untuk melegitimasi kepentingan negara. Dari sanalah gerakan ini bermula, yang bertujuan untuk meng-counter balik terhadap ideologi yang merusak tatanan kehidupam masyarakat.

Selain itu, teologi yang berkembang di tataran dunia ketiga, terutama Amerika Laten dan Asia, lebih merupakan teologi yang melawan negara yang kuat dan hegemoni kapitalis, dimana kapitalis merupakan momok bagi masyarakat yang tertindas. Jika hal ini terus berkembang, seperti halnya di Indonesia, maka masyarakat akan semakin sengsara dan muncul kemiskinan beserta konflik secara terus menerus. Daerah-daerah yang subur yang dulunya dengan leluasa dapat ditanami dan dimiliki warga setempat, akan berubah menjadi hak milik kelompok kapitalis. Dan apabila alamnya rusak, maka yang menanggung akibatnya adalah rakyat.

Kilas balik di dalam buku ini di bagi menajadi empat tahap, yang dibedakan lagi menjadi penemuan dan pembaruan. Yang pertama adalah tahap penemuan dan pembebasan teologi pembebasan. Kedua, tahap pengisian teologi pembebasan dengan berbagai topik permasalahan. Ketiga, tahap koreksi teologi pembebasan atas kealpaanya yang menyampingkan dan membiarkan tradisi dan adat lokal termarginalkan. Keempat, tahap kesadaran teologi pembebasan akan kemajemukan agama, budaya dan bangsa. Untuk perkembangan dari tahap pertama hingga tahap ketiga masih berorientasi ke alam pikiran Kristiani. Sedangkan pada tahap keempat, sudah memperhitungkan keberagaman pengalaman pemeluk agama dan tradisi-tradisi lain sebagai bahan kajian dan refleksi, dimana pluralitas sudah menjadi wacananya.

Jika ditelisik lebih jauh lagi, ternyata teologi pembebasan dalam buku ini juga menyiasati globalisasi dengan menawarkan paradigma dan cara bertindak yang membebaskan manusia. Atau disebut praksis, dari segala macam kedosaan dengan segala akibatnya yang merambah ke dalam sistem dan relung-relung kehidupan dengan segala dimensinya.

Dalam tradisi pemikiran keagamaan, selain dosa pribadi, kita juga mengenal yang namanya dosa sosial, yakni dosa yang sudah membentuk struktur, sehingga pribadi-pribadi di dalamnya sulit keluar darinya. Karena dosanya sudah melembaga, maka cara mengatasinya juga harus dengan cara yang struktural. Demikian juga dengan tradisi yang oleh orang Kristianai disebut sebagai Perjalanan Lama. Dosa itu berlapis dari dosa pribadi, dosa sosial, dosa politik, dosa ekonomi, dosa budaya, dosa hukum, bahkan dosa dari segala dosa, yakni dosa asali. Dosa-dosa seperti itulah yang akan menindas, mempermiskin, memperbodoh, mengintimidasi, dan membunuh dengan kekerasan, yang spiralnya semakin meningkat menjelajah dan intensitasnya. Pada zaman ini, dosa struktural itu mengambil bentuk globalisasi ekonomi dan politik-ideologi yang tidak terkendali oleh segi-segi manusiawi yang ada pada ilmu globalisasi pengetahuan, teknologi dan budaya.

Teologi pembebasan juga menyediakan langkah yang harus ditempuh dalam menyiasati sudut-sudut globalisasi. Langkah awal yang harus ditempuh dalam menyiasati sisi negatif dari globalisasi dimuali dari paradigma pembebasan. Paradigma adalah model pemikiran mengenai tata pemikiran masyarakat, contoh tatanan yang dicita-citakan dapat juga dikatakan utopia yang dipersonalkan meskipun tidak akan benar-benar secara utuh tergapai semuanya. Sedangkan paradigma pembebasam adalah inti dari paradigma penyelamatan, yang intinya manusia diciptakan dengan citra Allah Yang Kudus, sehingga semua nanusia terbebas dari segala macam bentuk dosa. Namun karena kesombongan dan keserakahanya ia akhirnya kehilangan kebebasanya, terkungkung dalam penjara dosa dan kegelapan. Paradigma pembebasan anak bangsa inilah paradigma alternatif terhadap paradigma globalisasi yang menindas.

Langkah yang kedua adalah Praksis Teologi Pembebasan. Sebelum masuk pada uraian selanjutnya, pertama-tama harus diingat meskipun kemerdekaan, kesaudaraan, keadilan sosial, dan kerakyatan adalah nilai-nilai juang manusia universal, semua itu meruipakan hasil hermeneutika dari teks kebijakan negara bangsa modern. Nilai-nilai itu tidak sekedar menampung dan menerima kemajemukan. Letak pembebasannya adalah mengusahakan hidup kemajemukan itu sendiri. Disini, selain bebas dimaknai sebagai kemandirian dan hormat kepada keunikan orang atau suku lain, juga sebagai usaha memenuhi syarat kehidupan semua dan cinta pada kemanusiaan, terlebih yang terpinggirkan. Keduanya melanggar kemanusiaan. Mengusahakan hidup berkemajemukan, yang merupakan ciri pembebasan. Hal ini dapat dipahami dari pepatah yang berbunyi “jangan mengukur bajumu sendiri”. Artinya, jika berada ditempat orang, kita jangan menggunakan takaran sendiri. Lebih singkatnya, bila ingin memperkaya diri, jangan remehkan keunikan orang lain.

Selain secara metodis teologi pembebasan berguna sebagai jembatan keberimanan dan praksis, ternyata juga dapat mempertemukan dua kubu tanpa adanya kekerasan. Kekerasan dibalas dengan kekerasan memang dapat menjadi pilihan. Namun juga akan selalu melahirkan spiral kekerasan. Untuk menghentikannya, tidak lain praksis pembebasan ala Gandhi, Martin Luther King, beserta Nelson Mandela harus diterapkan dan diikuti.

*)penulis adalah pengamat sosial.

Resensi Buku Selengkapnya

  1. Tidak ada komentar.
  1. Tidak ada pelacakan.